Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Hosting Unlimited Indonesia

Iklan

Hosting Unlimited Indonesia

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Ponpes Lirboyo Tetap Lestarikan Bangunan Lawas, Jadi Napak Tilas Para Masyayikh

| Februari 27, 2026 | 0 Views Last Updated 2026-02-27T20:37:06Z

Kediri - Laskar News, Pondok Pesantren Lirboyo terus menjaga dan melestarikan sejumlah bangunan lawas yang menjadi saksi awal berdirinya pesantren. Upaya tersebut tidak sekadar mempertahankan fisik bangunan, tetapi juga merawat nilai sejarah, edukasi, dan spiritual yang diwariskan para pendahulu.

Salah satu Pengasuh Ponpes Lirboyo, KH Abdul Muid Shohib menegaskan, bangunan lama memiliki makna penting dalam proses pendidikan santri. Menurutnya, bangunan tua menjadi napak tilas perjuangan para masyayikh yang merintis pesantren dengan penuh kesederhanaan dan keikhlasan.

"Bangunan lama ini bukan sekadar peninggalan fisik, tetapi saksi sejarah perjuangan para pendahulu. Dari sinilah santri belajar bahwa pesantren dibangun dengan kesahajaan, pengorbanan, dan keikhlasan," kata Gus Muid, sapaan akrab KH Abdul Muid, saat ditemui awak media, Jumat (27/02/2026).

Salah satu bangunan yang masih terawat adalah Langgar Angkring, langgar pertama di Lirboyo.
Bangunan ini menjadi penanda awal berdirinya pesantren sekitar tahun 1910, ditandai dengan hadirnya santri pertama bernama Umar, murid pendiri pesantren KH Abdul Karim. Meski telah mengalami renovasi, struktur utama dan kayu asli tetap dipertahankan, termasuk posisi bangunan yang dahulu berada dalam kondisi 'nangkring'.

Selain Langgar Angkring, terdapat pula pondok lama yang dahulu menjadi pusat aktivitas santri generasi awal. Tembok putih yang menjadi penanda batas kamar dalam dan kamar luar masih berdiri, begitu pula sumur tua yang dulu menjadi sumber kebutuhan harian santri.

Warisan sejarah lainnya adalah jam istiwak, alat penunjuk waktu berbasis pergerakan matahari yang digunakan untuk menentukan waktu salat sekaligus media pembelajaran ilmu falak. Hingga kini, jam tersebut tetap dijaga sebagai simbol integrasi keilmuan Islam klasik di lingkungan pesantren.

Gerbang lama pesantren dan Masjid Lawang 9 juga masih kokoh dan aktif digunakan. Masjid tersebut menjadi salah satu ikon spiritual pesantren yang terus hidup dalam aktivitas ibadah dan pengajian.

Gus Muid menegaskan, dalam menjaga bangunan lama, pihak pesantren menerapkan prinsip kehati-hatian agar modernisasi tidak menghilangkan identitas.

"Kami menyeimbangkan pelestarian nilai sejarah dengan kebutuhan fasilitas pendidikan. Renovasi dilakukan seperlunya tanpa menghilangkan ruh dan identitas pesantren," jelasnya.

Menurutnya, bangunan-bangunan lama tersebut tidak hanya bermakna bagi santri yang masih aktif, tetapi juga menyimpan memori spiritual mendalam bagi para alumni. Karena itu, kesadaran merawat warisan pesantren terus ditanamkan melalui pembiasaan dan keteladanan.

"Menjaga kebersihan dan merawat lingkungan pesantren adalah bagian dari adab dan penghormatan kepada para pendiri. Ini juga bagian dari pendidikan karakter santri," pungkasnya.


(D. Sujoko)
×
Berita Terbaru Update