Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Hosting Unlimited Indonesia

Iklan

Hosting Unlimited Indonesia

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Tahun Baru Saka di Bali: Melasti, Tawur Agung Kesanga, dan Pengerupukan

| Maret 10, 2024 | 0 Views Last Updated 2024-03-11T05:43:56Z


Klungkung Bali – Laskar News, Bulan ini, masyarakat Hindu di Pulau Bali sedang merayakan Nyepi, sebuah perayaan Tahun Baru Saka yang telah diadakan sejak tahun 78 Masehi.

Perayaan ini jatuh pada tanggal Tilem Kesanga, dianggap sebagai hari penyucian bagi para dewa. Nama “Nyepi” sendiri berasal dari kata “sepi”, yang berarti sunyi atau senyap. Sebelum memasuki Nyepi, umat Hindu mengikuti rangkaian upacara khusus, seperti Melasti, Tawur Agung Kesanga, dan Pengerupukan.

Upacara Melasti, yang biasanya dilaksanakan dua hingga tiga hari sebelum Nyepi, memiliki tujuan membersihkan Bhuana Alit (kekuatan dalam diri manusia) dan Bhuana Agung (alam semesta) di laut. Selama Melasti, patung-patung suci seperti Rangda, Barong, Arca, dan Pratima diarak menuju pantai oleh umat Hindu yang mengenakan pakaian putih.


Tawur Agung Kesanga dilaksanakan pada hari Tilem Chaitra, sehari sebelum Nyepi, di lapangan Puputan, Badung, Denpasar. Upacara ini bertujuan untuk membersihkan Jagad Bhuana Alit dan Bhuana Agung berdasarkan konsep Tri Hita Karana, yang menekankan keseimbangan antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan alam, dan manusia dengan manusia.

Tawur Agung Kesanga merupakan bagian dari upacara Bhuta Yadnya, yang dijalankan untuk kesejahteraan dan keselarasan alam. Setiap rumah di Bali juga melakukan upacara mecaru, memiliki makna serupa dengan Tawur Agung Kesanga, namun dalam skala yang lebih kecil.


Pada malam harinya, dilaksanakan Pengerupukan, sebuah tradisi yang masih dilestarikan di masyarakat Bali. Saat Pengerupukan, banyak ogoh-ogoh turun ke jalan. Ogoh-ogoh adalah karya seni patung yang mencerminkan Bhuta Kala, kekuatan alam semesta dan waktu yang tidak terukur.

Mereka diarak keliling desa dengan obor dan diiringi oleh gamelan baleganjur. Beberapa tahun terakhir, ogoh-ogoh bahkan telah mengalami transformasi dengan penggunaan mesin untuk memberikan gerakan pada badan mereka.

Tahun Baru Saka di Bali diawali dengan Nyepi, di mana semua aktivitas sehari-hari dihentikan. Pada hari Raya Nyepi, umat Hindu menjalani “Catur Brata” Penyepian, yang terdiri dari amati geni (tidak menggunakan api), amati karya (tidak bekerja), amati lelungan (tidak bepergian), dan amati lelanguan (tidak mendengarkan hiburan).

Proses Nyepi berlangsung dari pukul 6 pagi hingga 24 jam kemudian. Selain memiliki nilai spiritual, Nyepi juga memberikan dampak positif pada lingkungan di Bali, dengan tercatatnya penghematan listrik hingga 60 persen selama perayaan Nyepi dibandingkan dengan hari-hari biasa. (Pritiwantoro)
×
Berita Terbaru Update