Jakarta - Laskar News, Takdir merupakan salah satu rukun iman yang wajib percaya bagi hamba-Nya. Sikap rela menerima merupakan bentuk keimanan seseorang. Saat engkau dekat dengan-Nya melalui pertolongan-Nya dan dengan mengosongkan hati dari makhluk, nafsu, dan segala sesuatu selain-Nya sehingga hatimu dipenuhi Allah SWT dan perbuatan-Nya. Maka engkau akan bergerak hanya karena kehendak-Nya, dan kau bergerak jika Allah SWT menggerakanmu. Keadaan ini menjadikan kau mencapai tahapan luruh. Kau telah bersatu bersama Tuhanmu tentu berbeda dari bersatu bersama selain-Nya.
Ingatlah janganlah senang hati bergantung dan bersatu dengan sesama, karena kau dan sesama itu sama-sama fakir dan tidak mempunyai kekuasaan untuk menjadi sandaran. Ditegaskan dengan firman-Nya dalam surah asy-Syura ayat 11 yang artinya, "(Dia) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan-pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Melihat."
Adapun makna ayat di atas adalah Allah SWT, tiada yang bisa menandingi oleh semua ciptaan-Nya. Oleh sebab itu, jika kau memperoleh kekuasaan yang sangat besar janganlah berlagak ikut mengatur atas pengaturan-Nya. Dia Maha Mendengar ucapan-ucapan hamba-hamba-Nya dan Maha Melihat segala perbuatan mereka. Tidak ada sesuatu pun yang luput dari-Nya dan Dia akan membalas segala amal mereka; jika baik maka akan mendapat ganjaran baik, bila buruk maka akan mendapat ganjaran buruk.
Bagaimana kita bisa mencapai sikap rela? Awal kerelaan adalah sesuatu yang dapat dicapai seorang hamba dan itu merupakan makam, meskipun pada akhirnya kerelaan merupakan hal dan bukan sesuatu yang diperoleh dengan upaya. Ketahuilah bahwa bagi seorang hamba untuk bersikap rela terhadap takdir, karena hal ini bagian dari keimanannya.
Abdul Wahid bin Zayd menuturkan, "Kerelaan adalah gerbang Allah SWT yang terbesar dan surganya dunia ini." Ketahuilah hamba tidak akan mendekati derajat kerelaan terhadap Tuhan-Nya sampai Allah SWT ridha terhadapnya. Sebagaimana firman-Nya dalam surah Al Bayyinah ayat 8 yang berbunyi, "Allah ridha kepada mereka, dan mereka pun rela kepada-Nya."
Syekh Abu 'Ali ad-Daqqaq menuturkan, "Seorang murid bertanya kepada syekhnya, 'Apakah si hamba mengetahui kalau Allah ridha kepadanya?' Sang syekh menjawab, 'Tidak. Bagaimana dia bisa tahu hal itu sedangkan keridhaan-Nya adalah sesuatu yang tersembunyi?' Kemudian murid memprotes, 'Tidak, dia bisa mengetahuinya!' Syekhnya bertanya, 'Bagaimana si hamba bisa tahu?' Murid langsung menjawab, 'Jika saya mendapati hati saya rela kepada Allah SWT, maka saya tahu bahwa Dia ridha kepada saya.' Maka sang syekh berkata, 'Sungguh baik sekali ucapanmu itu, anak muda'."
Dikisahkan ketika Nabi Musa AS berdo'a, "Ya Allah, bimbinglah aku kepada amal yang akan mendatangkan keridhaan-Mu." Allah SWT menjawab, "Engkau tidak akan mampu melakukannya." Lalu Musa bersujud dan terus memohon. Maka Allah SWT. lalu mewahyukan kepadanya, "Wahai putra Imran, keridhaan-Ku ada pada kerelaanmu menerima ketetapan-Ku."
Kedua kisah diallog syekh dengan muridnya dan do'a Musa AS menunjukkan kekuasaan-Nya hingga para hamba akan memperoleh ridha-Nya dengan:
1. Kerelaan hati kepada-Nya.
2. Kerelaan menerima ketetapan-Nya. Kerelaan hati kepada-Nya merupakan bentuk keikhlasan hanya satu-satunya bersandar kepada-Nya. Adapun seorang hamba yang menerima ketetapan-Nya merupakan bentuk keimanan pada salah satu rukun iman.
Sumber : detikhikmah
Editor : Eko S, H
Penulis : Heri P

